arlina

jUSt fOr YOu

small_red_rose-501

Blog ini ditujukan buat mereka yang ingin mengetahui apa yang dimaksudkan dengan Hukum Humaniter, atau yang sudah biasa disebut dengan Hukum Perang; demikian juga aspek-aspek hukum mengenai sengketa bersenjata atau peperangan dalam pengertian yang tradisional serta permasalahan di seputarnya.

Setiap pengutipan dari blog ini, harap ‘dikemas dalam bahasa sendiri’ serta mencantumkan sumbernya; baik itu dari sumber utama serta dengan menyebutkan alamat blog ini (atau Arlina Permanasari), beserta URL artikel yang dikutip.

Pencantuman sumber, diyakini sebagai suatu pemberian ‘credit‘; baik bagi orang yang melakukan pengutipan maupun bagi orang yang tulisannya dikutip, sehingga setiap pernyataan dapat selalu dipertanggungjawabkan…

Dalam dunia pendidikan, banyaknya sumber kutipan dianggap merupakan perwujudan dari ketelitian atau ketekunan seseorang dalam menggali suatu topik. Kita tidak akan mengetahui sesuatu tanpa membaca atau mendapatkan informasi dari pihak lain, karena pada hakekatnya kita tidak akan pernah bisa mengetahui semua hal dengan sendirinya…

Banyak hal yang rasanya bisa diperoleh dari budaya pengutipan tersebut… misalnya, memaksa kita untuk banyak membaca, memperluas wawasan, juga… secara argumentatif pendapat yang didasarkan pada sumber-sumber bacaan yang valid menjadi tidak terbantahkan jika benar… namun sekaligus melepaskan tanggung-jawab, jika salah… Lagi pula, yang terpenting… penulisan dengan cara demikian diyakini akan memberikan kemampuan untuk menulis bagi siapa saja, memberikan kepuasan tersendiri serta memberikan suatu ‘ciri khas’ pada penulisnya di manapun dan kapanpun, karena gaya penulisan yang unik dan khas hanya bisa dimiliki oleh si penulis itu sendiri…

Setidaknya, orang yang mengutip cukup menggerakkan satu jari telunjuknya saja pada mouse; akan tetapi penulis orisinal harus menggunakan ke sepuluh jari-jemarinya…. maka… tidakkah seharusnya apresiasi diberikan kepada penulis orisinal…?

Itulah harapanku ketika memasuki dunia blogging… semoga tidak terlalu tinggi ya.., mengingat pernah mendapatkan pengalaman seru ketika pertama kali nge-blog…

Aku selalu ingin berbagi banyak, walaupun hanya mengetahui sedikit…

Salam nge-blog…

Email : arlinapermanasari@yahoo.com

Pages: 1 2

  1. nice blog… keep blogging yah..๐Ÿ˜€

  2. Support2 spt ini bagaikan episode di pagi hari… udara segar, kicau burung, dan hari yang damai. Thanks ya…๐Ÿ™‚

  3. Salam kenal…. Terus maju…:mrgreen:

  4. Salam kenal juga ya… makasih…

  5. salam kenal .. thanks kunjungannya.

  6. “mengingat pernah mendapatkan pengalaman seru ketika pertama kali nge-blogโ€ฆ”

    Wah kalau “seru” biasanya asikk yah๐Ÿ™‚

  7. Nice Blog, tampilan simple tapi keren, isinya Oke.
    Salam Blogger…
    Thanks juga ya Irfan… atas petanya yg oke..!

  8. mbak yang ada dibuku mbk kok ngk di tampilin c, pdhal bgus lho……………….

  9. oh ya maf ngk sopan…………..salam kenal

  10. mbk tolong muat tentang tentara bayaran dnk………………menarik banget tuh

    Terimakasih sarannya… tentang tentara bayaran… tunggu aja ya…

  11. keep blogging,bu. btw “charlie company” itu kasus apa yah?๐Ÿ™‚

    Itu kasus kejahatan perang (war crimes) yang dilakukan tentara AS (Kompi Charlie; di bawah komando Letnan William Calley) di kota My Lai, Vietnam. Sebagai referensi menarik, mungkin Eka bisa membaca buku “Four Hours in My Lai” karangan Michael Bilton dan Kevin Sim. Saya juga merencanakan memberikan review nya di blog ini, tapi mungkin masih agak lama… :”> Thanks, Eka.

  12. bu, sxan ttg hak dan tgjwb militer dalam hal kasusistik pemilu..

    waduhh.. kalo kaitan militer dengan pemilu, saya ngga tahu deh ๐Ÿ˜‰

  13. Hebat Lily…

    Kita ‘kan sama-sama belajar… bukan begitu…? ๐Ÿ™‚

  14. Mantap,…tampilannya menarik..

    Hey Lily .

    Trims yaa… ditunggu kritikannya nih…

  15. assalamu’alaikum..
    mba arlina..makasih kunjungannya…
    semoga sukses selalu ya . . .
    kpn2 bagi2 ilmunya ke saya ya mba…
    biar saya jadi pinter ky mba arlina..
    CU…
    wassalam…

    Wa’alaikumsalam Sigit… sukses selalu juga ya buatmu…

  16. bu Arlina;…sbenarnya siapa sih yg hrs melaksanakan dan mengawal Hukum Humaniter manakala terjadi konflik antar negara apalagi nek sing terlibat negara adidaya. tks

    Amak, terimakasih pertanyaannya…

    Sebenarnya prioritas pertama yang harus melaksanakan Hukum Humaniter adalah negara yang bersangkutan, di mana di wilayahnya terjadi pelanggaran2 Hukum Humaniter. Kewajiban ini tercantum dalam pasal2 mengenai pelaksanaan konvensi (Pasal 49-54 konvensi Jenewa I; Pasal 50-53 Konvensi Jenewa II; Pasal 129-132 Konvensi Jenewa III dan Pasal 142-149 Konvensi Jenewa IV). Mengapa harus negara yang bersangkutan? Ini tidak lain hampir semua negara telah menjadi pihak pada Konvensi Jenewa 1949 ini, termasuk Indonesia (mengenai status negara2 pihak pada Konvensi Jenewa 1949, dapat dilihat pada situs ICRC (http://www.icrc.org/IHL.nsf/(SPF)/party_main_treaties/$File/IHL_and_other_related_Treaties.pdf), sehingga bila terjadi pelanggaran terhadap ketentuan konvensi (yang merupakan suatu perjanjian internasional), maka timbullah tanggung jawab negara sebagaimana nampak pada pasal-pasal yang telah disebutkan. Di samping itu, prinsip hukum lainnya yang tercermin dalam hal ini adalah prinsip yurisdiksi teritorial; maksudnya jika terjadi pelanggaran hukum humaniter di suatu wilayah negara, maka negara yang bersangkutan lah yang memiliki prioritas pertama untuk menindaknya, bukan negara lain atau mahkamah pidana internasional.

    Adapun yang mengawal Hukum Humaniter, adalah suatu organisasi internasional yang dikenal dengan nama Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross atau disingkat ICRC), yang memiliki latar belakang sejarah berkenaan dengan pengembangan hukum humaniter itu sendiri. Namun, memang tidak hanya ICRC sendiri saja yang dapat mengawal atau mengawasi. Masyarakat internasional termasuk NGO secara umum dapat pula melaksanakan tugas tersebut.

  17. salam bu. lama gak di update nih blognya. lg sibuk yah. oh iya, sy br baca Kompas hr ini, ada berita ICRC diminta keluar dari Papua oleh Pemerintah, alasan resminya karena perjanjian antara ICRC dan Pemerintah telah selesai. ada komentar bu? mungkin ada sesuatu yang tersirat yg ibu ketahui ttg mengapa ICRC diminta keluar oleh Pemerintah:)

    Halo Eka… Iya nih… belum sempet update blog lagi, baru jawab2 pertanyaan aja. Mudah2an saya bisa segera posting lagi di blog ini.

    Ya, saya jga telah membaca berita itu. Secara detail mengenai perjanjian antara Pemerintah Indonesia dan ICRC (tahun 1977 dan 1987) saya sendiri tidak tahu, Eka. Namun secara umum ada beberapa prinsip2 HI yang bisa kita lihat di sini : pertama, prinsip yurisdiksi (negara) teritorial. Prinsip ini merupakan prinsip mutlak yang dimiliki oleh suatu negara sebagai perwujudan dari doktrin persamaan derajat antarnegara. Antar negara yang berdaulat, masing-masing pihak harus saling menghormati dan tidak melakukan pelanggaran2 yang berkenaan dengan antara lain integritas teritorial (politik, ekonomi, dll). Jadi, kalau negara lain saja harus menghormati integritas teritorial negara lainnya (misalnya dengan tidak melakukan pelanggaran batas2 wilayah), maka apalagi jika yang terlibat itu adalah suatu organisasi internasional (walaupun juga merupakan subyek HI namun derajatnya tidak sama dengan negara). Kehadiran organisasi internasional yang bersifat sui generis seperti ICRC dalam konflik antar negara secara otomatis, memang dapat dipahami karena memang merupakan mandatnya. Namun dalam konteks seperti di Indonesia saat ini, yang tidak sedang dilanda konflik internasional, kehadiran suatu entitas asing memang harus tunduk pada prinsip yurisdiksi negara, dengan mengajukan ijin (“permition”). Bahkan dalam konflik internal saja, kehadiran ICRC di suatu negara untuk melakukan mandatnya harus berdasarkan persetujuan Pemerintah yang bersangkutan; sebagaimana tercermin dalam Pasal 3 alinea ke-2 kalimat pertama (apalagi dalam keadaan damai). Dengan perkataan lain, dalam hal ini kehadiran ICRC memang harus berdasarkan persetujuan yang diberikan oleh Pemerintah yang memiliki kewenangan mutlak. Dalam kasus ini, saya yakin bahwa pada awalnya pihak ICRC telah melakukan hal tersebut (dibuktikan dengan adanya ke dua perjanjian tersebut di atas).
    Namun, ada prinsip lainnya yang telah kita ketahui, yakni bahwa ada masa berakhirnya suatu perjanjian (“termination of treaty”). Jika benar apa yang diberitakan oleh mass media, bahwa ICRC tidak merespons rancangan MOU tahun 2004 dari Pemerintah dalam rangka perpanjangan ke dua perjanjian tersebut di atas, maka tentu saja hal ini sangat mengecewakan sekali, dan tentu saja Pemerintah berhak untuk melakukan tindakan-tindakan hukum terhadap siapapun yang melakukan pelanggaran di wilayah teritorialnya.

  18. saya sangat paham bahwa prinsip kedaulatan negara merupakan perihal yang sangat sensistif dalam HI. Namun, jika alasan itu digunakan untuk melindungi kejahatan atau pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara, menurut saya itu juga tidak benar. Menurut pendapat saya -CMIIW- situasi di Papua kan memang rentan atas represi negara thdp penduduk sipil (internal conflict), dan pemerintah sangat ketakutan jika unsur asing (dlm hal ini ICRC) menguak apa yg sebenarnya terjadi di sana sehingga pemerintah memanfaatkan habisnya waktu perjanjian antara ICRC dengan pemerintah untuk mengusir ICRC. Jika perjanjian itu telah habis dari 2004, mengapa pengusiran itu baru sekarang dilakukan pada saat situasi di Papua kembali mencekam? Pengusiran ICRC bs menjadi preseden buruk bagi Indonesia apalagi dengan dalih yg sangat normatif (berakhirnya perjanjian). Apakah ibu melihat jg motif-motif seperti yg saya lihat ? -konspirasi mode on๐Ÿ™‚ –

    Hmmmm, justru sebaliknya saya melihat, Pemerintah sudah sangat cukup memberikan toleransi terhadap ICRC sedemikan longgarnya (jika memang demikian keadaannya). Kalau saya sih keliatannya selalu merespons secara normatif deh, karena ngga pernah belajar ilmu politik, hehehe… (-kompor mode on) Yah, mudah2an yang terjadi hanyalah kesalahpahaman yang tidak perlu ya, sehingga masalah ini tidak berlarut-larut…

    Adapun situasi di sana, juga di bagian lain dari negara kita ini, memang sangat fluktuatif. Saya saat ini tidak dalam posisi yang langsung percaya penuh pada ‘apa yang saya baca di koran’, melainkan lebih memilih memberikan kepercayaan spt itu pada ‘apa yang saya lihat di lapangan’ (fyi : saya pernah melakukan diseminasi hukum humaniter di Papua dan pada saat itu mass media heboh memberitakan terjadi kekerasan dan huru hara yang mengakibatkan sebuah rumah hancur… setelah dicek, ternyata hal tersebut jauh dari apa yang diberitakan (dinding rumah ternyata jebol kira-kira sebesar bola kaki). Asal tahu aja, waktu itu justru saya sedang diseminasi atas permintaan dari ICRC Delegasi Jakarta dan saat itu bersama-sama anggota delegasinya ke lokasi kejadian… )

  19. oh begitu yah bu. tapi menurut saya pemilihan kata pengusiran bukanlah kata yang bijak dalam kerangka diplomasi. terkesan kyk di- persona non grata-kan๐Ÿ™‚ saya juga masih menaruh “curiga” atas info2 yg diberikan media, terkadang mereka tidak memberitakan namun menyimpulkan heheheh.

    Nah… kali ini saya setuju deh dengan kalimat terakhir Eka.. tapi bukan saya lho yang mengatakan demikian…. trus kata-kata “pengusiran”…? hmmm bener ga ya… belum tentu juga kan… au’ ah elaaap.. (kaburrrr : mode on)๐Ÿ˜€

  20. berarti selama ini kita berada di garis yg berbeda yah bu๐Ÿ™‚ tp gpp, berbeda itu kan rahmat Allah jg. Hehehe

    Yang ngeri kalau semua pikiran orang Indonesia sama… wah… gimana tuh? ๐Ÿ˜‰

  21. bu, jika ada waktu sempatkan berkunjung ke rumah maya saya yah, soalnya lg ikutan kompetiblog nih. sekalian tolong dikomentarin juga postingannya. terima kasih๐Ÿ™‚ (kok seperti memaksa yah heheh)

    Eka..gimana.. masih ikutan kompetiblog? saya baru aktif ngeblog lagi nih…

  22. ibu saya vemy kelas hukum humaniter ibu..
    nim saya 01005647…

    hmmm… udh lulus kan? saya njawabnya baru berani setelah lewat semester…๐Ÿ™‚

  23. Assalamualaikum, maaf mau bertanya bu, TERAS dibuka jam berapa aja ya bu? saya hendak membaca-baca untuk referensi skripsi saya, trimakasih sebelumnya, Assalamualaikum

  24. Assalamualaikum, maaf mau bertanya bu, TERAS dibuka jam berapa aja ya bu? saya hendak membaca-baca untuk referensi skripsi saya, trimakasih sebelumnya

    wa’alaikumsalam, Najmi… terAs biasa buka pada jam2 kerja kok… kalau ada perlu minta tolong saja sama petugas di lantai 5 (mas tole)… biasanya saya ngider tuh… kalo ngga di lantai 5, ya lantai 3..2…1…8…

  25. Ibu Arlina, blognya bagus sekali, sangat bermutu, bangga deh pernah jadi mahasiswa Ibu arlina๐Ÿ™‚

    Terimakasih, Lidwina… Jadi ingat waktu di kelas dulu ya… ^,^

  26. salam

    wah pasti lg sibuk yah bu sampai belum sempat renovasi2 “rumahnya” lagi.๐Ÿ˜€

  27. wah Ibu Arlina blognya bagus sekali. benar benar sangat bermanfaat sekali buat perkuliahan๐Ÿ™‚

  28. Iya benar bu arlina, banyak bahan kuliah ttg hukum humaniter yang saya dpt dari blog ibu๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: