arlina

Apa arti “konflik bersenjata” ?

In Additional Protocol I, Additional Protocols 1977 on December 22, 2008 at 10:23 am

Jika Anda membaca istilah “konflik bersenjata” (armed conflict), maka apa gambaran yang muncul dalam benak Anda ? Apakah kemudian Anda ingat Perang Teluk, atau invasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Irak ? Ataukah Anda juga mengingat peristiwa ‘Lubang Buaya’ atau Gerakan 30 September (PKI), atau operasi militer di Aceh ? Atau peristiwa-peristiwa lain seperti kasus Trisakti, peristiwa Semanggi, kasus Tanjung Priok juga terlintas dalam pikiran Anda, karena semua peristiwa yang telah disebutkan itu menggunakan senjata serta mengakibatkan banyak korban yang tewas.

Mari kita lihat istilah “konflik bersenjata” berdasarkan Hukum Humaniter. Menurut Pietro Verri [1], istilah “konflik bersenjata” (armed conflict) merupakan ungkapan umum yang mencakup segala bentuk konfrontasi antara beberapa pihak, yaitu :

  1. Dua Negara atau lebih;
  2. Suatu Negara dengan suatu entitas bukan-Negara;
  3. Suatu Negara dan suatu faksi pemberontak; atau
  4. Dua kelompok etnis yang berada di dalam suatu Negara.

Setelah melihat pengertian “sengketa bersenjata” yang dikemukakan oleh Pietro Verri, mungkin Anda dapat menentukan sendiri, apakah jawaban Anda tadi benar atau tidak. Namun, tentu saja pengertian tersebut masih belum jelas benar, serta masih membutuhkan contoh-contoh kasus dan penjelasan lebih rinci.

  • Konfrontasi antara dua Negara atau lebih

Bentuk konflik bersenjata ini, yakni konfrontasi antara dua Negara atau lebih sering disebut dengan istilah “perang(war). Perang adalah sengketa bersenjata antara dua Negara atau lebih, yang dilaksanakan oleh Angkatan Bersenjata masing-masing negara dan diatur dalam Hukum Internasional.

Perlu dipahami bahwa tidak semua tindakan kekerasan antara dua Negara merupakan perang. Terdapat perbedaan mengenai peristiwa-peristiwa yang melibatkan penggunaan pasukan bersenjata akan tetapi hanya dipakai dalam bentuk dan jumlah yang terbatas, yang tidak mempengaruhi tingkat perdamaian antar kedua negara; serta  bentuk-bentuk penggunaan pasukan bersenjata yang memang merupakan perang.

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menggunakan istilah. Istilah sengketa bersenjata atau perang, tidak sama artinya dengan istilah perselisihan antar negara.

  • Konfrontasi antara suatu Negara dengan suatu entitas bukan-Negara

Istilah konfrontasi yang melibatkan suatu negara dengan suatu “entitas bukan-Negara” sering pula disebut dengan istilah “perang pembebasan nasional” (war of national liberation). Istilah ‘perang pembebasan nasional’ pada awalnya digunakan untuk menyebut perang saudara (civil war), akan tetapi saat ini jenis konfrontasi ini sudah digolongkan ke dalam sengketa bersenjata internasional dan oleh karena itu diatur dalam hukum sengketa bersenjata.

Adapun yang dimaksud dengan “perang pembebasan nasional” adalah suatu sengketa bersenjata di mana suatu bangsa berperang melawan dominasi kolonial, atau pendudukan asing, atau rezim rasialis dalam rangka melaksanakan hak untuk menentukan nasib sendiri (right if self-determination) sebagaimana yang tercantum di dalam Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa. Mengenai hal ini saya akan menulis dalam postingan berikutnya.

  • Konfrontasi antara suatu Negara dan suatu pihak pemberontak

Pietro Verri menulis bahwa bentuk konfrontasi yang melibatkan suatu Negara dengan suatu pemberontak di dalam negara tersebut lebih populer dikenal dengan istilah “sengketa bersenjata yang tidak bersifat internasional” (non-international armed conflict), yang sinonimnya adalah “perang saudara”.

Ciri-ciri sengketa bersenjata non-internasional adalah adanya peperangan antara Angkatan Bersenjata dari suatu Negara melawan pasukan pemberontak yang pada umumnya memiliki kemauan untuk memisahkan diri dari negara induknya. Berdasarkan hukum kebiasaan internasional, hal ini mutlak merupakan masalah dalam negeri suatu Negara.

  • Konfrontasi antara dua kelompok etnis yang berada di dalam suatu Negara

Jenis konfrontasi yang terakhir ini terjadi jika dua kelompok etnis yang berada dalam suatu Negara terlibat pertikaian. Apabila pertikaian tersebut terjadi dalam waktu yang cukup, kemudian diikuti dengan keikutsertaan para pihak serta telah mencapai intensitas tertentu, maka konfrontasi seperti ini dapat dikategorikan ke dalam sengketa bersenjata non-internasional.

Sumber : Pietro Verri, Dictionary of the International Law of Armed Conflict, ICRC, Geneve, 1992, hal. 34-35.

  1. Aku pgn prang sahwat aza . . . . Enak . .🙂

    Alamakkk…! 🙂

  2. Funda Clear (www.fundaclear.com ) is the where you can ask any tech and we present cypher it and portion videos related to the misstatement so you can cypher it easily.

  3. There are several position which define the development as recovered as disorder of sensex. These position permit market reasoning, stocks and shares. When someone talks nearly timber market, then it is must to reveal nearly the BSE sensex. In fact, it has become most a necessary to reveal nearly the BSE sensex stocks these days. The collection which is produced on the cornerstone of intended ruminate of timber market, BSE sensex directs all the finance strategies.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: