arlina

Indonesia dan Konvensi Den Haag 1954

In The Geneva Laws, The Hague Laws on December 18, 2008 at 7:31 am

Oleh : Arlina Permanasari

Indonesia sangat kaya dengan benda-benda budaya, baik yang bergerak (movable property) maupun yang tidak bergerak (immovable property). Ini sudah tidak disangsikan lagi. Oleh karena itu, pada tanggal 24 Desember 1954 Pemerintah Indonesia telah melakukan penandatanganan (signing) terhadap Konvensi Den Haag 1954 yang dihasilkan pada tanggal 14 Mei 1954. Ini artinya Pemerintah Indonesia setuju terhadap isi Konvensi Den Haag 1954 sebagai suatu perjanjian internasional yang memang penting bagi umat manusia dalam hal perlindungan benda budaya; sekaligus Pemerintah Indonesia berjanji juga untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan maksud dan tujuan (means and purpose) dari Konvensi Den Haag 1954. Oleh karena itu kemudian Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Den Haag 1954 dengan Keppres N0. 234 Tahun 1966 dan dokumen ratifikasi itu diterima pada tanggal 10 Januari 1967 di depository (pihak penyimpan) Konvensi Den Haag 1954 (yakni Sekretariat PBB atas permintaan Direktur Jendral PBB; lihat Pasal 40 Regulasi).

Bagaimana implementasi Konvensi Den Haag 1954 di Indonesia ?

Salah satu tugas Pemerintah Indonesia setelah meratifikasi Konvensi Den Haag 1954 antara lain adalah memberikan penandaan (marking) terhadap benda-benda budaya yang dimiliki, yang tentu saja, harus sudah dilaksanakan pada waktu damai. Benda-benda budaya seperti Candi Borobudur yang termasuk sebagai “salah satu dari tujuh keajaiban dunia” telah didaftarkan pada Direktur Jendral UNESCO sebagai benda budaya yang berada dalam “perlindungan khusus” (“special protection“), telah menggunakan lambang perlindungan khusus ini.

prambanan-cultural-propertyDemikian juga Candi Prambanan. Oleh karena itu, ketika saya berkunjung balik ke tempatnya Pak Mardoto yang secara tidak sengaja mampir ke blog ini, saya sangat surprise! menemukan bahwa Beliau memiliki foto prambanan_benda_budayaCandi Prambanan dengan display lambang perlindungan khusus.  ‘Seperti tumbu ketemu tutup’… begitu deh. Saya senang sekali. Klop. Maka saya pikir baik sekali kalau foto tersebut saya tampilkan di sini. prambanan_warisanPada foto-foto ini, perhatikan lambang perlindungan khusus yang diperlihatkan pada papan pengumuman; sudah didaftarkannya Candi Prambanan sebagai warisan budaya dunia (world heritage list) no. 642; serta adanya otorisasi dari Pemerintah mengenai benda budaya. Pada papan pengumuman dari foto terakhir, jelas-jelas dinyatakan bahwa :

Dilarang merusak, membawa, memindahkan, mengambil, mengubah bentuk dan atau warna, memusnahkan benda cagar budaya tanpa izin Pemerintah. Pelanggaran ketentuan ini diancam dengan pidana selama-lamanya 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). Pasal 26 Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya

Sayang, ketika posting artikel ini, saya belum berhasil menemukan foto Candi Borobudur dengan latar depan lambang perlindungan khusus seperti foto-nya Pak Mardoto ini. Mungkin rekan-rekan blogger lainnya ada yang punya…? Waahh, saya tentu saja amat senang sekali kalau ada yang mengirimkannya kepada saya…🙂

Image : Courtesy of Mardoto, at WNI Nomor 1i

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: