arlina

Lambang “Perlindungan Khusus” untuk Benda-benda Budaya

In The Geneva Laws, The Hague Laws on December 17, 2008 at 8:38 am

Oleh : Arlina Permanasari

Melengkapi tulisan saya sebelumnya tentang lambang perlindungan untuk benda-benda budaya (cultural properties), maka kali ini saya akan posting sebuah lambang lainnya, yang digunakan untuk memberikan “perlindungan khusus” terhadap benda-benda 119px-distinctive_emblem_for_cultural_property_under_special_protectionsvg1budaya khususnya pada waktu perang. Adapun bentuk lambangnya, sama dengan lambang sebelumnya yang dimandatkan dalam Konvensi Den Haag 1954, akan tetapi jumlah perisai terbaliknya ada tiga buah, seperti terdapat dalam gambar di atas. Hal ini tercantum dalam Pasal 16 ayat (2) Konvensi Den Haag 1954, yang berbunyi : “The emblem shall be used alone, or repeated three times in a triangular formation (one shield below), under the conditions provided for in Article 17“.

Mengapa disebut dengan “perlindungan khusus” (“special protection”) ?

Benda-benda budaya yang mendapatkan perlindungan khusus adalah benda-benda budaya yang telah didaftarkan pada “International Register of Cultural Property under Special Protection“,  sesuai dengan Regulasi dari Konvensi Den Haag 1954.  Apabila kita lihat Regulasi tersebut, maka berdasarkan Pasal 12 ayat (2) dari Regulasi, yang dimaksud dengan Kantor Pendaftaran ini adalah Direktur Jendral UNESCO (Director-General of the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).

Apa saja yang harus ditandai dengan lambang perlindungan khusus ini ?

Sebagaimana dicantumkan dalam Pasal 16 tersebut, maka berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat(1), lambang perlindungan khusus ini hanya dapat digunakan sebagai cara untuk mengidentifikasi :

  1. Benda-benda budaya yang tidak bergerak (immovable cultural property) yang berada dalam perlindungan khusus (special protection);
  2. Transportasi benda-benda budaya sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Pasal 12 dan 13;
  3. Tempat-tempat penampungan sementara benda-benda budaya, sesuai dengan persyaratan yang ada dalam Regulasi dari Konvensi ini.

Adapun, berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat (2), lambang perlindungan benda budaya (dengan satu buah perisai terbalik), hanya dapat digunakan sebagai alat untuk menandai :

  1. Benda-benda budaya yang bukan berada dalam perlindungan khusus;
  2. Para petugas (personil) yang bertugas mengawasi benda budaya, sesuai dengan Regulasi dari Konvensi ini;
  3. Para personil yang terlibat di dalam tugas untuk melindungi benda budaya;
  4. Kartu-kartu identitas sebagaimana tercantum di dalam Regulasi dari Konvensi ini.

Selanjutnya, ketentuan pasal yang sama dalam ayat (3) menyatakan bahwa dalam waktu perang, penggunaan lambang pembeda ini yang tidak sesuai dengan ketentuan ayat-ayat tersebut di atas, atau penggunaan lambang yang mirip dengan lambang perlindungan ini harus dilarang.

Pasal ini juga menyatakan dalam ayat (4)-nya, bahwa lambang pembeda ini tidak boleh digunakan pada setiap benda budaya tidak bergerak kecuali dengan menyertakan juga otorisasi dari pihak yang berwenang.

Image : Courtesy of  Wikimedia Commons.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: