arlina

Lambang Perlindungan untuk Benda-benda Budaya

In The Geneva Laws, The Hague Laws on December 14, 2008 at 3:24 pm

Oleh : Arlina Permanasari

Beberapa hari lalu saya menulis artikel mengenai lambang-lambang yang mendapatkan perlindungan secara internasional. Salah satu lambang tersebut terdiri dari tiga buah bulatan penuh berwarna merah yang dikelilingi oleh garis lingkar, juga berwarna merah tua di atas dasar berwarna putih. Bagi yang belum mengetahuinya, lambang banner_of_peace_from_the_roerich_pactsvg.pngtersebut adalah lambang yang ditujukan untuk memberikan perlindungan khusus terhadap benda-benda budaya. Ketentuan ini terdapat dalam Perjanjian mengenai Perlindungan Institusi-institusi Ilmiah dan Kesenian serta Monumen-monumen Bersejarah (Treaty on the Protection of Artistic and Scientific Institutions and Historic Monuments), dikenal juga dengan sebutan Roerich Pact, yang dihasilkan di  Washington, 15 april 1935.  Lihatlah Pasal 3 Roerich Pact yang berbunyi :”In order to identify the monuments and institutions mentioned in Article 1, use may be made of a distinctive flag (red circle with a triple red sphere in the circle on a white background) in accordance with the model attached to this Treaty“.

  • Bagaimana sejarahnya ?

Ketentuan mengenai adanya lambang untuk melindungi benda-benda budaya ini sebenarnya bukan pertama kali diatur dalam Roerich Pact. Beberapa ketentuan sebelumnya dalam Hukum Den Haag telah mengamanatkan agar lambang seperti ini dibuat, misalnya ketentuan dalam Pasal 27 Regulasi Den Haag 1899 dan 1907 dan Pasal 5 Konvensi Den Haag IX 1907 mengenai Pemboman oleh Kapal Perang pada waktu sengketa bersenjata. Ke dua ketentuan tersebut mengamanatkan agar benda-benda budaya ditandai dengan suatu lambang pembeda (distinctive sign).  Demikian pula maksud yang sama dicantumkan pula dalam ketentuan Pasal 25 dan 26 dari Aturan-aturan Den Haag tentang Perang di Udara (Hague Rules of Air Warfare) yang dihasilkan tahun 1922/1923.

Beberapa waktu kemudian, barulah lambang Pakta Roerich ini dihasilkan. Disebut juga Pakta Roerich karena atas saran dari Prof. Nicholas Roerich maka dibuatlah rancangan perjanjian atas permintaan Museum Roerich di New York yang dikerjakan oleh Georges Chklaver dari Institut des Hautes Etudes Internationales of the University of  Paris dan kemudian didiskusikan oleh Kantor  Museum Internasional PBB. Negara-negara yang hadir pada Konferensi Negara-negara Amerika yang ke-7 yang diselenggarakan di Montevieo kemudian berhasil merumuskan Pakta Roerich ini. Oleh karena itu, depository (pihak penyimpan naskah perjanjian orisinal) dari Pakta Roerich ini adalah Pan American Union.

  • Siapa saja yang mendapatkan perlindungan hukum dari Roerich Pact ?

Untuk mengetahuinya, dapat dilihat ketentuan Pasal 1. Berdasarkan Pasal 1 ini, maka ada beberapa objek yang harus dilindungi oleh Belligerent pada waktu perang, yaitu  :

1.  Bahwa monumen-monumen bersejarah, museum, institusi/gedung-gedung kebudayaan, pendidikan, kesenian dan ilmu pengetahuan harus dianggap sebagai objek-objek yang netral dan harus dihormati dan dilindungi oleh Belligerent.

2.  Bahwa penghormatan dan perlindungan tersebut berlaku pula terhadap para petugas (personil) yang bekerja pada objek-objek netral yang telah disebutkan.

3. Bahwa penghormatan dan perlindungan tersebut berlaku baik dalam waktu damai maupun dalam waktu perang.

Akan tetapi, berdasarkan Pasal 5, apabila objek-objek tersebut digunakan untuk tujuan-tujuan yang bersifat militer, maka ia akan kehilangan penghormatan dan perlindungan yang diberikan oleh Roerich Pact.

  • Apakah Roerich Pact masih berlaku ?

Untuk negara-negara yang telah meratifikasi (ikut serta sebagai pihak pada) Roerich Pact, maka tentu saja perjanjian ini masih mengikat mereka. Jika terdapat perjanjian internasional lainnya yang mengatur tentang hal yang sama, maka Roerich Pact berlaku sebagai pelengkap (supplementary). Anda dapat melihat negara-negara yang menjadi peserta Roerich Pact di sini.

Hmm.. memangnya ada perjanjian internasional lainnya yang mengatur pula mengenai perlindungan benda-benda budaya ? Nantikan saja postingan saya berikutnya.

Image : Courtesy of Wikimedia Commons.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: