arlina

Israel dan Pendudukan Asing atas Palestina. Konflik bersenjata yang harus diakhiri…!!!

In Additional Protocol I, Geneva Conventions 1949 on January 4, 2009 at 2:18 pm

Oleh : Arlina Permanasari

Salah satu jenis konflik bersenjata internasional yang merupakan jenis konflik baru, sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 ayat (4) Protokol Tambahan I tahun 1977, adalah konflik bersenjata yang dikenal dengan nama “pendudukan asing” (alien occupation).

Sebelum saya lanjutkan tulisan mengenai alien occupation ini, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa alien occupation ini BERBEDA dengan “belligerent occupation” atau “military occupation” (pendudukan militer). Istilah yang terakhir ini menunjukkan adanya konflik bersenjata di mana suatu negara telah berhasil melakukan invasi dan menduduki suatu negara atau suatu wilayah yang belum menjadi suatu negara, baik sebagian maupun semua wilayah. Sementara pendudukan asing tidaklah seperti itu. Jika terjadi “alien occupation”, maka itu sudah tentu juga merupakan belligerent / military occupation; akan tetapi tidak setiap belliegerent / military occupation adalah alien occupation.

Agar dapat membedakannya dengan mudah, mari kita ingat kasus pendudukan Israel atas Palestina sebagai contoh dari alien occupation; dan penjajahan Belanda atas Hindia Belanda (Indonesia sebelum merdeka), sebagai contoh dari belligerent/military occupation. Dalam hal ini, pendudukan Israel atas Palestina merupakan alien occupation di mana terjadi penjajahan atas suatu bangsa, yakni bangsa Palestina; namun penguasa asing tersebut, yakni Israel,  tidak saja menduduki wilayah bangsa Palestina, tetapi juga sekaligus menjadikan wilayah pendudukan tersebut sebagai wilayah teritorialnya. Inilah hakikat pendudukan asing! Adapun pendudukan militer, hanya berhenti sampai pada batas menduduki dan menguasai wilayah pendudukan saja, akan tetapi Penguasa Pendudukan tidak berniat untuk  tinggal dan menjadikan wilayah pendudukan sebagai wilayah nasional. Kita tentu masih ingat, betapa Pemerintah Belanda pada waktu dahulu menduduki, menjajah dan menjarah semua harta kekayaan yang kita miliki, namun semua kekayaan tersebut dibawa pulang ke negeri Belanda!

  • Apakah Israel melakukan pendudukan asing atas bangsa Palestina ?

Mungkin semua orang telah mengetahui jawaban atas pertanyaan di atas. Jawabannya : ya! Kita akan melihat hal tersebut dari sudut pandang Hukum Humaniter. Hal ini akan membawa kita kepada konflik yang sangat panjang mengenai konflik bersenjata antara Israel melawan Palestina.

Sejak dimulainya konflik bersenjata antara Israel dan Palestina dari tahun 1947 hingga saat ini, banyak sekali pelanggaran Hukum Humaniter yang dilakukan oleh Israel. Sebenarnya, pelanggaran yang dilakukan oleh Israel tidak saja bertentangan dengan Hukum Humaniter, akan tetapi sekaligus juga bertentangan dengan Hukum Internasional pada umumnya dan bertentangan pula dengan Hukum Hak Asasi Manusia Internasional. Supaya fokus, maka tulisan ini hanya akan membahas mengenai pendudukan asing yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina.

Sebagaimana telah disinggung di muka, perbedaan utama antara alien occupation dengan belligerent/military occupation adalah adanya kehendak untuk menjadikan wilayah pendudukan sebagai wilayah teritorial dari Penguasa Pendudukan. Mari kita lihat hal tersebut pada kasus Israel – Palestina :

Pada awal terjadinya konflik bersenjata antara Israel dan Palestina (1947-1954), pasukan militer Israel berhasil menguasai dan menduduki tanah Palestina. Sejak itu, dimulailah pelanggaran-pelanggaran Hukum Humaniter yang dilakukan oleh Israel, yaitu :

  1. Perolehan tanah secara melawan hukum (tidak sah) yang dilakukan dengan kekerasan bersenjata. Israel menambahkan wilayah yang diperolehnya dari pendudukan militer ke dalam wilayah nasionalnya. Hal ini terjadi pada sekitar tahun 1948.
  2. Perolehan tanah secara melawan hukum (illegal) ini terus berlanjut hingga ke periode ke-2 (1967-sekarang), dengan menganeksasi wilayah Jerusalem bagian Timur dan Dataran Tinggi Golan. Padahal, berdasarkan Hukum Humaniter, tindakan-tindakan militer dan pendudukan militer hanya akan dianggap sah jika dilakukan berdasarkan konsep mempertahankan diri-sendiri (self-defense), atau memang dilakukan demi kepentingan dari masyarakat asli dari wilayah yang diduduki, dan normalnya pendudukan militer dilakukan dalam waktu yang terbatas (tidak lama). Akan tetapi apa yang dilakukan Israel benar-benar telah merupakan pelanggaran Hukum Humaniter, karena pendudukan militer tersebut diikuti dengan berbagai pelanggaran Hukum Humaniter lainnya seperti adanya perubahan hukum setempat secara ekstensif; adanya eksploitasi ekonomi demi kepentingan Penguasa Pendudukan; adanya pembuatan dinding pemisah; dan lain sebagainya (mengenai pelanggaran lainnya, akan dipaparkan dalam  “Hot News” ).
  • Pendudukan asing atas wilayah Palestine oleh Israel

Pendudukan asing yang dilakukan oleh Israel adalah bertentangan dengan Hukum Humaniter dan hal tersebut dapat jelas terlihat sebagaimana yang ditunjukkan dalam gambar peta wilayah Palestina sebagai berikut :

Gb.1  Palestina, 1946

Gb.1 Palestina, 1946

Pada peta di samping (Gb.1), diperlihatkan wilayah Palestina sebelum terjadi perang di tahun 1948. Peta wilayah Palestina ini saya peroleh dari rememberpalestine.com.

Kemudian, setelah terjadi perang dan Israel mulai menduduki dan menguasai tanah Palestine, maka wilayah Palestina mulai berkurang,

Gb. 2 UN Partition Plan, 1947

Gb. 2 UN Partition Plan, 1947

sebagaimana gambar berikutnya (Gb. 2). Daerah yang berwarna kuning diperuntukkan bagi Palestina; sedangkan yang berwarna oranye, diduduki oleh Israel.

Sedangkan Jerusalem, dinyatakan sebagai wilayah internasional (lihat Gb. 3). Namun, sejak tahun 1947, kota-kota di seluruh

Gb. 3  Jerusalem wilayah internasional, 1947

Gb. 3 Jerusalem wilayah internasional, 1947

wilayah Palestina dihancurkan sedikit demi sedikit oleh tentara Israel (pada peta ditunjukkan dengan titik-titik merah) , sehingga hanya menyisakan sedikit wilayah di Palestina untuk didiami rakyat Palestina sendiri (Gb.4). Hal ini kemudian dengan dilanjutkan dengan pemukiman

Gb.4 Penghancuran kota2 Palestina

Gb.4 Penghancuran kota2 Palestina

warga Israel di wilayah yang diduduki, dilanjutkan dengan penambahan wilayah Israel yang meliputi Dataran Tinggi Golan dan wilayah Jerusalem bagian Timur (Gb.5), maka kita dapat melihat bahwa terjadi pengambilalihan tanah wilayah Palestina secara paksa dan melawan hukum.

Gb.5 Wilayah pendudukan Israel sejak 1967

Gb.5 Wilayah pendudukan Israel sejak 1967

Proses itu berlangsung terus serta ditindaklanjuti Israel dengan pembangunan dinding pemisah.

Saya ingat, pernah mendapatkan email berjudul “The Biggest Robbery of the 20th Century” dari sahabat saya, Muhammad Kashif Tahir. Email itu berisi peta yang menunjukkan “perubahan” drastis wilayah Palestina. Secara kebetulan saya berkunjung ke blog milik Irfan Al-Chemy dan mendapatkan gambar peta yang sangat jelas memperlihatkan adanya alien occupation yang dilakukan oleh Israel terhadap tanah Palestina. Maka tidak ada salahnya jika gambar peta tersebut saya tampilkan disini (Terimakasih Kashif dan Irfan!) Warna hijau menggambarkan wilayah bangsa Palestina, sementara warna putih menggambarkan wilayah pendudukan Israel :

1946, 1947, 1949-1967, 2000, dan (prediksi 2010?)

Pendudukan asing atas Palestina : 1946, 1947, 1949-1967, 2000, (2010?)

  • Pelanggaran Hukum Humaniter apa saja yang dilakukan oleh Israel ?

Berkenaan dengan masalah pendudukan asing atas wilayah Palestina, maka Israel telah melakukan pelanggaran Hukum Humaniter, dalam hal ini adalah :

1. Konvensi Den Haag ke- IV, 1907. Setidaknya terjadi pelanggaran terhadap Pasal 43 dan 44 yang berbunyi :

  • Pasal 43. Kewenangan dari penguasa yang sah secara nyata telah beralih ke tangan Penguasa Pendudukan, yang kemudian akan mengambil semua langkah dalam kewenangannya untuk mengembalikan dan menjamin ketertiban dan keamanan umum bila memungkinkan, kecuali benar-benar untuk pencegahan, dengan menghormati hukum yang berlaku di negara tersebut.
  • Pasal 55. Penguasa Pendudukan harus  hanya dianggap sebagai administrator dan pengelola bangunan-bangunan publik, pemukiman masyarakat, hutan, dan lahan pertanian yang menjadi milik Negara Musuh, dan yang terletak di dalam wilayah negara yang diduduki. Penguasa Pendudukan harus melindungi modal dari barang-barang tersebut dan mengelolanya sesuai dengan hukum lokal setempat.

2. Konvensi Jenewa IV, 1949. Setidaknya terjadi pelanggaran terhadap Pasal 47 dan 54 yang berbunyi :

  • Pasal 47. Orang-orang yang dilindungi yang ada di wilayah yang diduduki,  bagaimanapun dan dalam keadaan apapun tidak akan kehilangan manfaat dari Konvensi ini karena perubahan yang diadakan dalam lembaga-lembaga atau pemerintahan suatu wilayah sebagai akibat dari pendudukan wilyah itu. Mereka juga tidak akan kehilangan manfaat Konvensi ini karena persetujuan apapun yang diadakan antara penguasa-penguasa dari wilayah yang diduduki dan negara pendudukan, atau karena aneksasi seluruh atau sebagian dari wilayah oleh Penguasa Pendudukan.
  • Pasal 54. Penguasa Pendudukan tidak boleh merubah kedudukan pegawai-pegawai negeri atau hakim di wilayah yang diduduki, atau dengan cara bagaimanapun menggunakan sanksi atau mengambil tindakan paksaan atau diskriminasi apapun terhadap mereka, apabila mereka tidak melakukan tugas-tugas mereka karena alasan-alasan hati nurani mereka…

3. Protokol Tambahan I 1977. Setidaknya terjadi pelanggaran terhadap Pasal 1 ayat (4), di mana dengan diperluasnya pendudukan asing Israel di atas tanah Palestina secara paksa dengan kekerasan bersenjata, merupakan pelanggaran terhadap hak menentukan nasib sendiri yang dimiliki oleh rakyat Palestina. Dan masih banyak pelanggaran lainnya yang sengaja tidak ditulis dalam bagian ini.

Berkenaan dengan masalah hak untuk menentukan nasib sendiri (self-determination), maka telah jelas bahwa self-determination merupakan salah satu hak asasi manusia yang penting yang dilindungi oleh hukum internasional; dalam tulisan ini adalah dilindungi berdasarkan Pasal 1 ayat (4) Protokol Tambahan I, 1977. Ketentuan tersebut menyatakan bahwa hak menentukan nasib sendiri harus dilindungi selama terjadi pendudukan militer.

Menurut Israel Law Resource Center, sejak tahun 1967, Israel telah melakukan langkah-langkah secara fisik maupun yuridis yang mempengaruhi hak untuk menentukan nasib sendiri bangsa Palestina yang tinggal di wilayah Palestina, yakni :

  • Israel mengambil tanah Palestina dan merubah status hukum tanah tersebut serta mengisi wilayah tersebut dengan infra-struktur milik Israel yang mengakibatkan masyarakat Palestina terisolir dari dunia luar. Insfra-struktur Israel tersebut meliputi tempat pemukiman penduduk sipil dari Israel, tempat perkemahan pasukan Israel, zona-zona penyangga, tempat-tempat penampungan orang asing, jalan raya yang hanya dapat digunakan oleh orang Israel, dan dinding pemisah yang dibangun ditengah-tengah komunitas masyarakat Palestina. Sementara akses ke dan dari daerah tersebut diawasi oleh pasukan Israel, di mana banyak sekali bukti-bukti yang mengemukakan adanya pelecehan dan pelanggaran HAM terhadap orang Palestina. Hal ini mengakibatkan adanya kelaparan di semua wilayah, malnutrisi dan berbagai penyakit yang diderita terutama oleh anak-anak.
  • Israel telah mengganti semua lembaga-lembaga pemeritnah setempat dengan komite militer Israel; dan Israel juga mendirikan sistem pemerintahan yang bersifat opresif dan eksploitif terhadap kehidupan perekonomian masyarakat Palestina. Hal ini mengakibatkan tingkat pengangguran yang tinggi dan menurunnya aktivitas ekonomi di wilayah Palestina, namun sebaliknya mengakibatkan keuntungan pada Israel.
  • Israel menerapkan hukum yang dimodifikasi dari Defense (Emergency) Regulation, 1945 yang pertama kali dibuat oleh Pemerintah Inggris untuk memadamkan kekerasan yang dilakukan oleh bangsa Palestina pada waktu itu. Aturan tersebut yang pada saat itu ditentang keras oleh komunitas Zionis, saat ini justru mereka praktekkan terhadap penduduk Palestina. Aturan-aturan tersebut antara lain mengijinkan tindakan-tindakan illegal seperti pidana penjara tanpa melalui sidang pengadilan atau denda, deportasi, penghancuran rumah, tindakan hukuman kolektif, dan sebagainya, yang merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional. Selain itu, pasukan Israel juga melakukan praktek penganiayaan dan pembunuhan di wilayah yang diduduki.

Semua tindakan yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina tersebut telah menghancurkan perekonomian Palestina, dan juga memporakporandakan masyarakat Palestina di wilayah pendudukan dan karenanya melanggar hak untuk menentukan nasib sendiri bagi masyarakat Palestina.

Sebagai simpulan :

  • Perlu dicatat bahwa pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Israel tidak hanya terbatas pada yang telah ditulis pada artikel ini; pelanggaran-pelanggaran mana dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap Hukum Humaniter (ius in bello);
  • Adapun pendudukan asing, merupakan pelanggaran terhadap Hukum Internasional secara umum mengenai perolehan wilayah yang tidak dapat dibenarkan karena dilakukan dengan kekerasan bersenjata. Tidak ada satupun teori Hukum Internasional yang dapat membenarkan adanya perolehan wilayah yang dilakukan dengan kekerasan bersenjata. Oleh karena itu, di samping telah melakukan pelanggaran terhadap Hukum Humaniter (ius in bello), maka Israel juga telah melakukan pelanggaran terhadap Hukum Internasional secara umum (ius ad bellum).

Image : Courtesy of palestineremembered.com; Wikimedia;UNISPAL.

  1. emg laknat tuh zionis israel
    matikan aja mereka
    biar mereka nggak bisa ngeliat matahari lagi

  2. Saya penggemar berat blog ini.. keren abis euyss… sekarang ngeblog juga bisa jadi kayak kuliah di kampus…

    Terima kasih, Keren. Sebenarnya blog ini memang saya buat untuk membantu mahasiswa di kelas. Jadi sistematika penulisannya memang disesuaikan. Ketika bikin blog ini pada 9 November lalu, saya sama sekali tidak menyangka akan terjadi insiden Gaza untuk kesekian kalinya… Kebetulan, postingan saya sampai pada topik yang pas. Ini semua membuat saya sangat sedih…
    Melihat kekejaman yang tiada terkatakan itu, saya tidak kuasa untuk melanjutkan postingan2 saya kembali… hingga lebih dari 2 minggu… akhirnya hingga blog saya “terlempar” ke halaman 10
    google search dari sebelumnya halaman 1 atau 2. Tapi saya rela.. ikhlas… (In this case… I dont use it to get my traffic…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers

%d bloggers like this: